Eddy Suzendi : Cirebon Raksasa Peradaban yang Tertidur di Simpang Jalan Sejarah

0
IMG-20260222-WA0015
Spread the love

CIREBONWARTANEWSCOM, Cirebon  Selama puluhan tahun, Cirebon terjebak dalam stigma sebagai “kota singgah”. Wisatawan datang hanya untuk berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati atau menyantap sepiring Empal Gentong, lalu bergegas pergi menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur. Pola one day trip ini menjadi sinyal merah bahwa ada yang salah dalam cara kita menarasikan Cirebon.

Dalam sebuah catatan kritis dan strategis, Eddy Suzendi, S.H., seorang Advokat LLAJ sekaligus pengamat budaya, menegaskan bahwa Cirebon sejatinya adalah raksasa peradaban yang kini terlupakan.

Cirebon bukan sekadar titik penyebaran Islam. Sejarah mencatat kota ini sebagai titik temu internasional sejak abad ke-15. Salah satu aset narasi paling kuat namun kurang digarap, adalah kisah cinta Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien dari Tiongkok.

“Makam Putri Ong Tien memiliki potensi heritage storytelling kelas dunia. Jika direvitalisasi secara artistik, ini bisa menjadi magnet wisata diplomasi budaya Indonesia-Tiongkok yang luar biasa,” tulis Eddy dalam pemaparannya.

Menurutnya, potensi ini sering terabaikan karena minimnya pendekatan heritage tourism management.

Untuk membangkitkan ekonomi kreatif, Eddy mengusulkan konsep radikal,  Bazar Pasar Seni dan Budaya Cirebon. Ini bukan sekadar acara seremonial tahunan, melainkan ikon wisata permanen yang membagi ruang menjadi empat zona akulturasi, Zona Arab: Menampilkan kaligrafi, musik hadrah, dan sejarah jalur dakwah. Zona Tiongkok: Menghidupkan kuliner peranakan, barongsai, dan filosofi oriental dan Zona Jawa: Mengangkat batik klasik, gamelan, dan wibawa keraton juga Zona Sunda: Menonjolkan seni tari, musik tradisional, dan kerajinan bambu.

“Bazar ini akan menunjukkan pada dunia bahwa Cirebon adalah miniatur Indonesia pesisir yang sesungguhnya,” tegasnya.

Catatan kritis juga ditujukan pada penataan ruang visual. Gua Sunyaragi, mahakarya arsitektur spiritual, kini seolah “tercekik” oleh bangunan di jalan utama yang menutupi kemegahannya. Padahal, dengan manajemen lanskap dan pencahayaan artistik (architectural lighting), Sunyaragi bisa menjadi ikon wisata malam setingkat Candi Prambanan.

Kekhawatiran terbesar juga tertuju pada ancaman kepunahan seni tradisi. Wayang Kulit Cirebon, Sandiwara, hingga Tarling Klasik mulai kehilangan regenerasi.

Eddy mengingatkan bahwa perubahan zaman memang keniscayaan, namun akar sejarah seperti kreativitas Mang Talam (pencetus Tarling) tidak boleh hilang ditelan modernitas dangdut.

Cirebon memiliki kekayaan kuliner di luar Empal Gentong yang belum dipetakan. Sebut saja Bubur Sop Ayam Kampung Klangenan hingga makanan tradisional seperti Buah Gayam dan Jalabia.

Strategi branding kuliner berbasis kawasan harus segera dibuat agar makanan bukan sekadar pengganjal perut, melainkan pengalaman budaya (experience tourism).

Sebagai penutup, Eddy Suzendi menekankan bahwa pariwisata masa depan bukan tentang membangun gedung baru yang megah, melainkan tentang menghidupkan kembali “jiwa” sejarah yang sudah ada.

“Pariwisata adalah kompetisi cerita dan identitas. Jika seni, budaya, dan kuliner ini tidak segera dihidupkan, generasi mendatang hanya akan mengenal Cirebon sebagai tempat singgah, bukan pusat kebudayaan besar yang pernah berjaya,” tandasnya.

Ia menegaskan, sudah saatnya pemerintah, pihak keraton, dan seniman bersatu dalam satu grand design untuk membangunkan raksasa peradaban ini sebelum identitasnya benar-benar lenyap. (Cepy)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *