Jelang Lebaran, Wamen LH Tinjau Pengolahan Sampah di Stasiun Cirebon
oplus_0
CIREBONWARTANEWSCOM, Cirebon – Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono meninjau kesiapan pengelolaan sampah di Stasiun Cirebon menjelang arus mudik Lebaran.
Kunjungan tersebut dilakukan bersama jajaran manajemen PT Kereta Api Indonesia (KAI) serta Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati.
Kepada awak media, Diaz mengatakan kunjungannya bertujuan memastikan kesiapan pengelolaan sampah di tengah potensi lonjakan penumpang selama masa mudik.
“Selamat siang kawan-kawan dan bapak-ibu semua. Saya bersama Pak Dirut KAI dan Ibu Wakil Wali Kota. Kita sekarang ke Cirebon ingin mengecek persiapan mudik,” ujar Diaz di Stasiun Cirebon.
Menurutnya, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memberikan perhatian khusus pada pengelolaan sampah yang diperkirakan meningkat seiring bertambahnya jumlah penumpang.
“Kami dari KLH khususnya ingin fokus dengan pengolahan sampahnya, karena pasti akan ada akumulasi penumpang dan sampahnya juga akan banyak. Bagaimana nanti KAI bisa mengelola sampah yang masuk,” tambahnya.
Diaz menjelaskan, KLH juga siap memberikan asistensi agar sampah dari stasiun tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Hal ini penting agar tidak membebani TPA milik Pemerintah Kota Cirebon yang saat ini sedang dalam proses peralihan sistem pengelolaan.
“Bagaimana KLH bisa membantu memberikan asistensi untuk mengurangi sampah yang dibawa dari stasiun-stasiun di Cirebon agar tidak membebani TPA-nya Ibu Wakil Wali Kota ini. Karena beliau juga lagi dalam tahap transisi TPA dari open dumping ke sanitary landfill,” jelasnya.
Diaz juga mengapresiasi langkah KAI yang telah menyiapkan fasilitas pemilahan sampah di area stasiun, salah satunya berupa bangunan berukuran sekitar 30 x 6 meter yang digunakan untuk memilah sampah.
“Kami apresiasi sekali karena waktu terakhir KLH datang ke sini belum ada fasilitas tertentu. Sekarang sudah ada fasilitas bangunan 30×6 meter untuk pemilahan sampah,” ujarnya.
Berdasarkan pengamatan awal, karakteristik sampah di stasiun didominasi oleh sampah anorganik. Karena itu, ia mendorong kerja sama dengan bank sampah setempat untuk memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
“Kalau kita lihat dari karakteristik sampahnya lebih banyak anorganik. Kemungkinan perlu ada kerja sama dengan bank sampah terdekat untuk mengambil sampah yang masih high value. Lalu yang mungkin value-nya tidak begitu tinggi baru dibawa ke TPA,” ungkapnya.
Dengan sistem tersebut, diharapkan volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan. Sementara untuk sampah organik, ia menyarankan agar dapat diolah di fasilitas yang telah dibangun KAI.
“Jadi tidak terlalu banyak yang masuk ke TPA dan mungkin sampah-sampah organiknya bisa diselesaikan di fasilitas yang sudah dibangun oleh KAI yang 30×6 meter itu,” tuturnya.
Diaz juga mengingatkan para pemudik untuk memanfaatkan fasilitas pemilahan sampah yang telah disediakan di stasiun agar proses pengelolaan di hilir tidak semakin sulit.
“Kami harap para pemudik jangan menyia-nyiakan fasilitas yang sudah diberikan oleh KAI. KAI sudah berupaya memisahkan dari sumbernya, ada sampah organik dan anorganik. Jadi mohon juga para pemudik kalau buang sampah jangan dicampur-campur supaya tidak menyusahkan di hilir,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati mengatakan Pemerintah Kota Cirebon terus meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah, termasuk rencana penambahan fasilitas sanitary landfill pada tahun 2026.
“Insya Allah di anggaran tahun 2026 ini akan ditambah lagi untuk pengelolaan sanitary landfill,” kata Farida.
Ia menyebutkan Kota Cirebon telah memiliki sejumlah fasilitas pengolahan sampah berbasis masyarakat, seperti Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Salah satunya yang berada di Kelurahan Kebonbaru dan menjadi TPS 3R terdekat dengan Stasiun Cirebon.
Selain itu, Kota Cirebon juga telah memiliki Pusat Daur Ulang (PDU) yang berfungsi meminimalkan penumpukan sampah.
“Ada PDU juga, jadi nanti fungsinya bisa meminimalisir penumpukan sampah yang ada di Kota Cirebon khususnya TPA,” ujarnya.
Menurut Farida, berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Cirebon untuk mengikuti arahan pemerintah pusat sekaligus mendukung program Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga kebersihan lingkungan di daerah.
“Pemkot sudah melakukan upaya-upaya yang diarahkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan mendukung program Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga kebersihan lingkungan di daerah, khususnya di Kota Cirebon,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Bobby Rasyidin, menyatakan bahwa upaya pengelolaan sampah sejalan dengan komitmen KAI dalam memberikan layanan terbaik bagi penumpang.
Menurutnya, KAI menempatkan kesehatan, kebersihan, dan kenyamanan sebagai prioritas utama dalam pelayanan.
“Tadi Pak Wamen sempat ngobrol singkat dengan kami bagaimana kita membuat satu model stasiun yang pengolahan sampahnya sangat ideal. Ini menjadi tantangan bagi kami agar nantinya bisa menjadi role model dan benchmark untuk lokasi-lokasi publik lainnya,” ujarnya. (Cepy)
