Sinergi Pemerintah, Pengusaha, dan Budayawan Kedawung Hidupkan Marwah Seni Cirebon di Baraja Amphitheater

0
Oplus_0

Oplus_0

Spread the love

CIREBONWARTANEWS.COM, Cirebon – Gemerlap lampu Baraja Amphitheater di kawasan Tuparev menjadi saksi bisu kemegahan sejarah masa lalu.

Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Cirebon yang ke-544, Pemerintah Kecamatan Kedawung berkolaborasi dengan Sanggar Seni Manunggaling Dharmasastra dan Baraja Coffee menggelar pertunjukan spektakuler bertajuk Baraja Cultural Show, Jumat (17/04/26) malam.

Acara berkonsep terbuka untuk umum dan gratis ini menyuguhkan pementasan Sendratari bertajuk “Palagan Cirebon Galuh”.

Sebuah narasi sejarah yang mengangkat detik-detik krusial berdirinya Cirebon sebagai entitas yang mandiri dan berdaulat.

Berbeda dengan persepsi umum yang identik dengan peperangan berdarah, pementasan ini justru menonjolkan sisi humanis dan strategis. Fokus cerita terletak pada momentum kemerdekaan Cirebon dari pengaruh Kerajaan Pajajaran pada tahun 1482.

Sendratari ini menggambarkan bagaimana Sunan Gunung Jati memimpin transformasi politik dan agama melalui jalur diplomasi serta dakwah yang santun.

Penghentian pemberian upeti kepada Kerajaan Pajajaran menjadi simbol kedaulatan yang diraih berkat kecerdasan strategi dan kekuatan spiritual, membuktikan bahwa kemandirian Cirebon lahir dari kedalaman pikir, bukan sekadar adu senjata.

Keberhasilan acara ini merupakan buah manis dari Forum Komunikasi Tripartit yang melibatkan praktisi budaya, dunia usaha, serta unsur pemerintah.

Gelaran tersebut tak luput dari perhatian unsur legislatif. Terbukti dengan kehadiran anggota DPRD Provinsi Jabar, Bambang mujiarto dan DPRD kabupaten cirebon, Rudiana.

Camat Kedawung, Sri Darmanto menyampaikan apresiasi mendalam atas kolaborasi lintas sektor yang dinamis ini.

“Malam ini kita menyaksikan penampilan luar biasa dari adik-adik Sanggar Manunggaling Dharmasastra. Ini adalah bentuk atensi nyata kami terhadap pelestarian budaya. Harapan kami, budaya Cirebon tidak hanya bertahan, tapi juga mampu berkiprah di kancah dunia,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan komitmen pemerintah kecamatan Kedawung untuk terus mendukung kegiatan serupa, berkaca pada kesuksesan event Kedawung Luhung tahun lalu sebagai wujud kehadiran negara dalam menjaga marwah seni lokal.

Senada dengan Camat, pimpinan Sanggar Seni Manunggaling Dharmasastra sekaligus budayawan, Nana Suryana, menekankan pentingnya menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat terhadap sejarah tanah kelahirannya.

Nana menjelaskan bahwa gelaran tersebut bertujuan untuk mengedukasi,  memahamkan masyarakat mengenai sejarah berhentinya upeti ke Pajajaran tahun 1482 yang kerap luput dari literasi publik.

Nana pun mengajak generasi muda untuk tidak meninggalkan tradisi di tengah gempuran modernisasi.

Menurutnya, Pergelaran seni tersebut direncanakan akan menjadi agenda rutin bulanan di Baraja Coffee guna memotivasi para seniman muda di wilayah Kedawung.

“Hari jadi ini adalah milik kita semua, bukan hanya milik pemerintah. Jika kita tidak tahu cerita daerah kita, bagaimana kita bisa menghargai dan membangun daerah sendiri?” jelas Nana.

Ratusan penonton yang memadati Baraja Amphitheater tampak terpukau menikmati pertunjukan outdoor yang estetik.

Perpaduan antara suasana malam kawasan bisnis Tuparev yang modern dengan gerak tari tradisional yang magis menciptakan pengalaman batin yang mendalam bagi penonton yang memenuhi tribun pertunjukan.

Dengan suksesnya Baraja Cultural Show, peringatan Hari Jadi Kabupaten Cirebon tahun ini menjadi momentum refleksi kolektif.

“Bahwa kemandirian sebuah daerah tidak hanya dibangun dari infrastruktur fisik, tetapi berakar kuat pada identitas dan kecintaan warganya terhadap sejarah luhur mereka,” pungkas Nana. (Cepy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *