Krisis Air Bersih di Krangkeng Indramayu, Warga Sebut Hampir Dua Bulan PDAM Mati

0
Oplus_131072

Oplus_131072

Spread the love

CIREBONWARTANEWS.COM, Indramayu – Krisis air bersih parah melanda warga Gang 5 Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Sudah hampir dua bulan suplai air dari Perumdam (PDAM) Tirta Darma Ayu tidak mengalir, memaksa warga mengeluarkan biaya ekstra yang cukup besar di tengah sulitnya akses air bersih.

Kondisi ini kian memprihatinkan mengingat Desa Krangkeng berada di wilayah rawan kekeringan.

Air sumur milik warga kondisinya asin, kuning, dan berbau, sementara sumber air permukaan seperti Sungai Oyoran tercemar berat dan dipenuhi sampah sehingga tidak layak untuk kebutuhan sanitasi harian.

Tokoh masyarakat setempat sekaligus Perwakilan warga Gang 5 Desa Krangkeng, Mohammad Sopandi, S.T., mengungkapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi, cuci, dan memasak, warga harus membeli air bersih tangki secara swadaya.

“Tiap dua hari sekali kami harus mengeluarkan uang Rp60 ribu untuk beli air bersih. Kalau dihitung, sebulan bisa habis hampir Rp900 ribu hanya untuk air. Ini sangat berat bagi warga,” kata Sopandi.

Ia mengaku sudah berulang kali menyampaikan laporan dan keluhan resmi ke pihak Perumdam Indramayu, namun hingga saat ini belum ada tindakan konkret di lapangan.

Bantuan armada tangki air dari PDAM pun dinilai sangat terbatas dan belum menyelesaikan akar masalah.

Sebagai praktikus yang paham teknis, Sopandi membeberkan bahwa penyebab utama air tidak pernah sampai ke pelanggan di Gang 5 adalah ukuran pipa distribusi utama yang terlampau kecil dan tidak sebanding dengan lonjakan jumlah pelanggan.

Saat ini, pipa distribusi yang terpasang di Gang 5 hanya berukuran 2 inci (inch), sementara jumlah pelanggan yang terhubung mencapai ratusan rumah. Hal ini diperparah oleh maraknya penggunaan pompa sedot di area depan gang.

“Walaupun suplai air melimpah dari Kuningan, Kertasmaya, maupun Waduk Jatigede, air tetap tidak akan sampai ke ujung gang kami. Pipanya terlalu kecil, cuma 2 inci. Idealnya untuk 100 sambungan rumah, jalur utama menggunakan pipa minimal 4 hingga 6 inci,” tegas Sopandi.

Secara teknis, penggunaan pipa 2 inci untuk ratusan pelanggan menyebabkan head loss atau kehilangan tekanan yang sangat tinggi akibat gesekan.

Akibatnya, tekanan air habis di bagian depan dan pelanggan di area tengah hingga ujung tidak mendapatkan air sama sekali.

Warga mendesak jajaran direksi dan pejabat Perumdam Indramayu untuk segera turun tangan melakukan evaluasi teknis serta peremajaan jaringan berupa penggantian pipa distribusi ke ukuran yang lebih besar (5 inci).

“Kami mohon dengan sangat kepada pejabat PDAM Indramayu untuk memperhatikan kami di wilayah timur ini. Air adalah kebutuhan vital. Jangan biarkan warga terus-terusan tersisihkan dan terabaikan,” pungkasnya. (Cepy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *