Rayakan HUT ke-17, Sanggar Manunggaling Dharmasastra Selamatkan Seni Tradisi Cirebon

0
Oplus_0

Oplus_0

Spread the love

CIREBONWARTANEWSCOM, Cirebon  Merayakan hari jadi yang ke-17, Sanggar Seni Manunggaling Dharmasastra menggelar acara megah bertajuk “Pergelaran Seni Budaya Kreativitas & Uji Kompetensi Tari”. Malam puncak rangkaian acara berlangsung di sanggar setempat, Desa Kalikoa, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Selasa (7/7/26) malam.

Prosesi syukuran HUT ke-17 ini ditandai dengan prosesi tiup lilin dan pemotongan tumpeng. Momentum sakral ini dihadiri oleh Bupati Cirebon yang diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno, Ahmad Jazuli dan beberapa budayawan, pimpinan sanggar seni se-Cirebon, perwakilan keraton, serta tamu undangan lainnya.

Pimpinan Sanggar Manunggaling Dharmasastra, Nana Suryana, mengungkapkan bahwa usia 17 tahun merupakan simbol transisi dari fase remaja menuju kedewasaan. Di usia ini, sanggar dituntut untuk memiliki pola pikir yang lebih kreatif, terutama dalam melestarikan kebudayaan di tengah gempuran modernisasi.

“Tantangan budaya hari ini adalah kemodernan zaman. Ketika kita tidak bisa melakukan inovasi dan penyesuaian, maka budaya itu akan ditinggalkan oleh penggemarnya. Oleh karena itu, kami terus berkreasi menciptakan inovasi karya yang bisa diterima oleh masyarakat masa kini,” kata Nana.

Nana juga tidak menampik adanya tantangan internal, seperti terbatasnya waktu latihan anak-anak akibat kesibukan sekolah serta ketergantungan pada gadget (smartphone).

Fenomena anak-anak yang lebih gemar meniru trend di media sosial menjadi kegelisahan tersendiri. Melalui sanggar ini, pihaknya berkomitmen mengalihkan fokus generasi muda agar lebih mencintai budaya daerah mereka sendiri.

Rangkaian acara hari jadi ini dibagi menjadi dua sesi utama, yaitu pada siang Hari (Uji Kompetensi Tari), dimana sesi ini bukan sekadar menguji hafalan gerakan murid-murid sanggar, melainkan sejauh mana mereka mengenali, menghayati, dan memaknai tarian tersebut. Menurut Nana, menari harus menggunakan hati, bukan sekadar hafalan mekanis.

Sedangkan pada malam puncak, lanjut Nana, ditutup dengan pergelaran seni budaya kreativitas.

Panggung malam tersebut menampilkan hasil inovasi seni tradisi yang dikolaborasikan dengan unsur modern agar tetap relevan. Salah satu penampian puncaknya adalah Sendratari Hanoman Obong, yang memadukan unsur tradisional dengan aransemen musik modern.

Selain seni tari, pagelaran ini juga menampilkan kebolehan anak-anak didik dalam memainkan musik gamelan tradisional. Langkah ini diambil sebagai solusi nyata sanggar dalam menghadapi krisis nayaga (penabuh gamelan) di wilayah Cirebon.

“Di Cirebon ini kita sedang krisis penabuh gamelan generasi muda. Di Sanggar Manunggaling Dharmasastra, kami berusaha memecahkan kebuntuan tersebut dengan mewajibkan siswa tidak hanya belajar menari, tetapi juga berlatih memainkan musik tradisional,” tegas Nana.

Menatap masa depan, Nana Suryana berharap generasi muda bisa mendapatkan fasilitas penunjang yang lebih baik. Ia mengetuk pintu pemerintah daerah untuk memberikan perhatian lebih, baik dalam bentuk ruang kegiatan, bantuan kostum, maupun fasilitas penunjang lainnya.

“Kami berharap ke depan ada sinergi dan kegiatan dari pemerintah yang bisa mengangkat potensi yang kami miliki di sini. Jika kegiatan kami ini dirasa menarik dan berdampak positif, silakan diangkat dan didukung oleh pemerintah,” pungkasnya. (Cepy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *