Atasi Genangan dan Kelola Sampah MBG, SDN Karang Jalak 2 Kota Cirebon Bangun 120 Lubang Biopori

0
IMG20260207102325
Spread the love

CIREBONWARTANEWSCOM, Cirebon – SDN Karang Jalak 2 Kota Cirebon menunjukkan komitmen serius dalam menjaga kelestarian lingkungan sekolah. Selama dua hari, Jumat hingga Sabtu (6-7 Februari 2026), sekolah ini menggelar kegiatan positif bertajuk “Anak Hebat, Peduli Lingkungan” dengan agenda utama pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB).

Kepala SDN Karang Jalak 2, Dewi Pujiati, S.Pd., M.Pd.  menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proyek kokurikuler semester genap yang dirancang oleh Tim Adiwiyata sekolah.

Berdasarkan analisis, area sekolah masih kekurangan ruang resapan yang menyebabkan air hujan lambat surut.

​”Idealnya, untuk luas bangunan dan lahan di sini, dibutuhkan sekitar 120 lubang resapan. Hari ini kami awali dengan 10 titik sebagai langkah awal. Ini adalah tindakan kuratif sekaligus preventif untuk mengatasi potensi banjir,” kata Dewi disela kegiatan, Sabtu (7/2/26).

​Selain urusan air, Dewi menekankan pentingnya pengelolaan limbah makanan seiring adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“LRB ini berfungsi ganda. Selain resapan, ini menjadi komposter sisa makanan anak-anak dari program MBG. Jadi, sampah organik langsung dikelola di sumbernya untuk menjadi pupuk penyubur tanah,” tandasnya.

​Dalam pelaksanaannya, sekolah menggandeng komunitas Youth Entrepreneur Studio (YESS). Budi Santoso dari perkumpulan YESS menjelaskan bahwa teknis pembuatan LRB di SDN Karang Jalak 2 mengikuti standar konservasi yang diatur dalam Peraturan Walikota Nomor 38 Tahun 2019.

​”Kami membuat lubang silindris sedalam 1 meter dengan diameter 10 cm. Agar tidak longsor, bagian atas diperkuat dengan pipa sepanjang 20 cm, lalu dipasang dop tutup untuk mencegah kerikil masuk. Terakhir, ditutup dengan roster beton sehingga area tersebut tetap bisa digunakan siswa untuk olahraga atau upacara dengan leluasa,” jelas Budi.

​Ia menambahkan, aksi ini sangat urgens mengingat Kota Cirebon kini memiliki ruang terbuka hijau yang minim di tengah perubahan iklim yang tidak menentu.

​Kegiatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran agar menjadi pembelajaran kontekstual bagi siswa. diantaranya, Pendidikan Pancasila & IPA.

Sementara itu, Wali Kelas V, Iis Isronurliani, S. Pd  mengungkapkan bahwa proyek ini menanamkan nilai gotong royong dan kerjasama. Secara akademis, siswa belajar langsung tentang ekosistem dan siklus air.

Selain itu, berkaitan dengan tugas mapel Bahasa Indonesia, dimana Siswa kelas V juga ditantang membuat poster dengan kalimat ajakan (persuasif) untuk menjaga lingkungan dan mencegah banjir.

Pada kesempatan yang sama, ​Wali Kelas VI, Bethi Ariefianti Hasanah, S. Pd., menuturkan bahwa kegiatan ini memperdalam materi kelas sebelumnya tentang evaporasi.

“Siswa diajak melihat aksi nyata bagaimana sampah organik berubah menjadi kompos dan mendukung organisme tanah seperti cacing. Harapannya, ilmu ini dibawa pulang dan diterapkan di lingkungan rumah mereka,” tuturnya.

​Melalui gerakan biopori ini, SDN Karang Jalak 2 tidak hanya berupaya mempercantik dan mengamankan lingkungan sekolah dari banjir, tetapi juga mencetak generasi “Anak Hebat” yang mampu memberikan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan di sekitar mereka.  (Cepy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *