Setahun Berteman Cemas, Pasangan di Wanakaya Cirebon Terpaksa Tidur di Sisa Ruangan Rumah yang Ambruk
Oplus_0
CIREBONWARTANEWSCOM, Cirebon – Kondisi memprihatinkan menimpa pasangan suami istri Yosef Pian Deni dan Sri Rahayu, warga Blok Kalisapu RT 04 RW 03, Desa Wanakaya, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon.
Sudah satu tahun lamanya, rumah yang menjadi tempat bernaung mereka ambruk dimakan usia dan faktor ekonomi, tanpa tersentuh bantuan perbaikan.
Kondisi bangunan saat ini sangat mengkhawatirkan. Atap di bagian kamar tidur telah ambruk sepenuhnya, menyisakan puing-puing genteng dan kayu yang lapuk. Terlebih di musim penghujan seperti sekarang, air hujan bebas masuk ke dalam rumah, membuat hunian tersebut tak lagi layak disebut tempat berteduh.
Karena takut akan adanya ambruk susulan, Yosef dan Sri terpaksa mengosongkan dua kamar tidur mereka. Kini, mereka bersama anak semata wayangnya harus berdesakan tidur di satu-satunya ruangan yang masih tersisa.
“Semua ruangan hancur, tidak ada tempat berteduh lagi. Setiap hujan, genteng jatuh satu per satu. Dokumen penting seperti surat nikah sudah saya selamatkan ke bagian depan semua karena takut tertimpa reruntuhan,” ucap Yosef dengan nada lirih.
Sebagai pekerja dengan penghasilan rendah, Yosef mengaku hanya bisa pasrah. Keinginan untuk memperbaiki rumah secara mandiri terbentur dinding kenyataan bahwa penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Upaya meminta bantuan kepada pihak Pemerintah Desa setempat pun sudah dilakukan, namun hasilnya nihil. Pihak desa berdalih bahwa saat ini tidak ada program bantuan yang bisa dialokasikan untuk perbaikan rumahnya.
“Saya sudah tanya ke desa bersama istri, tapi katanya tidak ada program. Harapan kami, mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah daerah atau dermawan. Kalau memperbaiki sendiri, biayanya dari mana?” ungkapnya.
Harapan keluarga kecil ini tidak muluk-muluk. Mereka hanya ingin memiliki atap yang rapat agar tidak lagi merasa was-was saat hujan turun di malam hari. Bagi Yosef, keselamatan anak dan istrinya adalah prioritas utama di tengah himpitan ekonomi yang mencekik.
Kini, keluarga Yosef hanya bisa menunggu keajaiban dan uluran tangan dari pihak-pihak yang peduli, agar rumah mereka tidak benar-benar rata dengan tanah. (Cepy)
