DP3APPKB Kota Cirebon Ingatkan Orang Tua Waspadai Post Holiday Blues pada Anak Pasca-Lebaran

0
87f01578-28a0-4f15-b316-ad3d19f7ab47 (1)
Spread the love

CIREBONWARTANEWSCOM, Cirebon – Masa transisi dari libur panjang Idulfitri kembali ke rutinitas sekolah seringkali memicu tantangan psikologis bagi anak-anak. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Cirebon, Suwarso Budi Winarno, mengimbau para orang tua untuk lebih peka terhadap kondisi post holiday blues.

Menurut Budi, menurunnya semangat belajar atau perubahan suasana hati anak setelah libur panjang adalah hal yang wajar.

Namun, kondisi ini memerlukan penanganan yang tepat agar anak dapat kembali bersekolah dengan percaya diri. Fenomena ini dipicu oleh adanya “kontras emosi”, di mana anak harus beralih secara drastis dari suasana kebebasan total menuju aturan sekolah yang terstruktur.

“Stimulasi berlebih selama liburan, seperti pola makan tidak teratur, penggunaan gadget yang intens, hingga aktivitas padat yang berhenti tiba-tiba, menjadi faktor utama penyebab ketidaknyamanan pada anak,” kata Budi, Senin (30/3).

Pihaknya merinci beberapa tanda yang sering muncul saat anak mengalami post holiday blues, di antaranya, Anak tampak murung atau mudah menangis tanpa sebab yang jelas, Munculnya penolakan atau rasa malas untuk kembali ke sekolah, Gangguan pola tidur, terutama kesulitan saat harus bangun pagi serta Sikap yang cenderung lebih rewel atau mudah marah.

Sebagai solusi, Budi menyarankan orang tua untuk melakukan transisi bertahap. Langkah krusial yang dapat dilakukan adalah mengatur kembali jam tidur beberapa hari sebelum sekolah dimulai dan mengurangi durasi penggunaan perangkat elektronik secara perlahan.

Selain itu, aspek validasi perasaan menjadi poin penting dalam pola asuh. Orang tua diharapkan tidak terburu-buru melabeli anak sebagai “pemalas”, melainkan mencoba memahami bahwa merindukan suasana liburan adalah proses emosional yang manusiawi.

Membangun antusiasme juga dapat dipicu melalui keterlibatan anak dalam menyiapkan perlengkapan sekolah. Budi menekankan pentingnya peran orang tua sebagai contoh.

“Orang tua harus menjadi role model. Dengan menunjukkan energi positif saat kembali bekerja, anak akan cenderung meniru semangat yang dipancarkan dari lingkungan rumahnya,” tambahnya.

Pendampingan yang penuh kesabaran, kehangatan, dan konsistensi menjadi kunci utama agar anak dapat menemukan kembali ritme belajarnya.

“Dengan dukungan yang suportif, masa transisi ini diharapkan menjadi momentum bagi anak-anak di Kota Cirebon untuk belajar menghadapi perubahan dengan lebih bahagia dan percaya diri,” pungkasnya. (Cepy)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *