Dani Jaelani : Gelar Tikar dan Forum Satu Meja, Kunci Sinergi Pembangunan Kota Cirebon

0
Oplus_0

Oplus_0

Spread the love

CIREBONWARTANEWSCOM, Cirebon  Membangun Kota Cirebon bukan sekadar urusan memutar roda anggaran, melainkan tentang bagaimana menghidupkan kembali “nyawa” kota melalui komunikasi publik yang inklusif. Hal tersebut disampaikan Ketua GM FKPPI sekaligus tokoh Payung Suci Cirebon, Dani Jaelani saat menghadiri salah satu acara di kawasan Kejaksan, Kota Cirebon, Rabu (29/4/26)

Dikatakannya, ditengah dinamika pembangunan, muncul gagasan kuat agar Pemerintah Kota Cirebon memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui pendekatan kekeluargaan.

“Kota Cirebon diibaratkan sebagai sebuah keluarga besar. Layaknya sebuah rumah tangga, jika anggota keluarga tidak pernah duduk bersama di meja makan, maka keharmonisan akan retak. Hal inilah yang mendasari perlunya Forum Satu Meja,” kata Dani.

Ia menambahkan bahwa, Walikota diharapkan hadir sebagai Dirigen yang mampu meramu berbagai suara menjadi satu simfoni pembangunan. Forum ini bisa bersifat formal maupun non-formal, yang bertujuan untuk, Menghilangkan sekat antara birokrasi dan rakyat, Menghidupkan kembali tradisi musyawarah, Menjadikan meja makan atau “gelar tikar” sebagai tempat mencari solusi juga Mengubah Mentalitas dari Penguasa Menjadi Pelayan.

“Inti dari komunikasi publik yang efektif adalah perubahan paradigma,” ucap Dani.

Masalah mendasar di Kota Cirebon, lanjutnya,  disinyalir bukan terletak pada keterbatasan anggaran, melainkan ketiadaan ruang dialog.

“Cirebon itu keluarga besar. Kalau tidak pernah kumpul di satu meja, bisa ambruk. Kita butuh meja buat ngobrol, bukan sekadar basa-basi,” ungkapnya.

Ditandaskannya bahwa, perubahan mentalitas dari penguasa menjadi pelayan adalah harga mati. Dengan mengedepankan sikap mendengar, rasa curiga antara masyarakat dan pemerintah dapat berubah menjadi rasa percaya (trust).

“Jika kepercayaan sudah terbangun, masyarakat akan merasa diajak, bukan lagi sekadar diperintah,” ucapnya.

Dijelaskan Dani, peran para sesepuh, kiai, dan tokoh masyarakat tidak boleh diabaikan. Mereka adalah lem sosial yang merekatkan perbedaan.

Dengan mengajak para tokoh ini “ngopi bareng” dan mendengar petuah mereka, pemerintah telah menjaga marwah Cirebon sebagai kota yang religius dan berbudaya.

Gagasan ini membawa angin segar dan harapan optimis bagi masa depan Kota Cirebon. Dengan mengedepankan tata kelola pembangunan yang berbasis kekeluargaan, Kota Cirebon diyakini mampu menuju perubahan yang lebih baik dan bermanfaat bagi seluruh lapisan warga.

“Mulailah dengan gelar tikar, ajak ngopi, dan dengerin. Karena musyawarah adalah nyawa Cirebon,” pungkasnya. (Cepy)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *