Berdayakan Ratusan Mualaf, Yayasan Haji Karim Oei Gelar Silaturahmi di Cirebon Raya
Oplus_0
CIREBONWARTANEWSCOM, Cirebon – Puluhan mualaf dari wilayah Cirebon Raya dan sekitarnya berkumpul dalam acara “Silaturahmi dan Ngobrol Bareng Seputar Kemualafan” di Galery Gramedia, Grage Mall Cirebon, Jalan Tentara Pelajar, Kota Cirebon, Kamis (14/5/26).
Kegiatan ini diinisiasi untuk membangun wadah komunikasi bagi para mualaf yang selama ini dinilai belum terkoordinasi dengan maksimal.
Ketua Panitia, Patrice Setiawati, mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang ada, terdapat sekitar 200 mualaf di wilayah Cirebon yang membutuhkan pendampingan, baik secara spiritual maupun ekonomi.
“Banyak mualaf menghadapi tantangan berat, mulai dari dikucilkan keluarga, dicoret dari Kartu Keluarga (KK), hingga persoalan ekonomi. Melalui silaturahmi ini, kami ingin mereka ‘keluar dari gua’ atau rasa takutnya, dan bertemu dengan sesama mualaf, termasuk para pengusaha, agar termotivasi untuk bangkit,” kata Patrice.
Patrice menambahkan, acara ini didukung oleh Yayasan Haji Karim Oei yang memiliki sejarah panjang sejak zaman penjajahan dalam dakwah di kalangan minoritas.
Ke depan, para mualaf ini akan difasilitasi melalui kolaborasi dengan berbagai mitra kerja agar mereka memiliki keterampilan dan berdaya secara ekonomi.
“Highlight utama kami adalah mualaf yang berdaya. Kami akan berkolaborasi dengan Masjid Lautze 1 Jakarta dan Masjid Lautze 3 Cirebon sebagai pusat kegiatan untuk menyalurkan potensi mereka,” tambahnya.
Hadir sebagai narasumber, Abah Oting, tokoh senior yang menjabat sebagai Penasehat Forum Komunikasi Tionghoa Indonesia dan Paguyuban Masyarakat Tionghoa Indonesia.
Dalam paparannya, Abah Oting berbagi pengalaman suka duka menjadi seorang mualaf dan menekankan bahwa kesuksesan dalam mencari nafkah dapat diraih melalui jalan Islam yang benar.
“Silaturahmi adalah kunci rezeki dan hoki. Tanpa mengenal satu sama lain, sulit bagi kita untuk saling membantu. Saya berharap acara di Cirebon ini menjadi pembuka untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya,” tutur Abah Oting yang datang langsung dari Bandung.
Ia juga menekankan peran Masjid dengan arsitektur khas Tionghoa (Masjid Lautze) bukan sekadar tempat ibadah atau parkir, melainkan sebagai pusat informasi bagi mereka yang ingin mengenal Islam.
“Islam itu untuk semua, bukan hanya satu suku. Keberagaman dan toleransi adalah hal mutlak karena Tuhan menciptakan kita berbeda-beda untuk saling mengenal dan membantu,” tandasnya.
Acara tersebut menarik antusiasme tinggi, terbukti dengan hadirnya peserta yang tidak hanya berasal dari wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan), tetapi juga dari Jakarta dan Bandung.
Salah satu sosok yang menjadi magnet dalam diskusi ini adalah Ko Dennis Lim, mualaf fenomenal yang turut berbagi inspirasi mengenai perjalanan spiritualnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para mualaf di Cirebon Raya tidak lagi merasa berjalan sendiri dan mampu meningkatkan taraf hidup mereka melalui jejaring komunitas yang kuat dan suportif. (Cepy)
