Fenomena Pinjol Tembus Rp1,3 T Sebulan, OJK Cirebon Ungkap Dampak Mengerikan Bagi Ekonomi dan Keluarga
Oplus_0
CIREBONWARTANEWSCOM, Cirebon – Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon, H. Agus Muntholib, mengimbau para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat luas untuk lebih bijak serta disiplin dalam mengelola keuangan keluarga.
Imbauan ini disampaikannya menyusul melonjaknya akumulasi utang baru masyarakat melalui layanan pinjaman online (pinjol) legal hingga menembus angka Rp1,3 triliun secara nasional hanya dalam kurun waktu satu bulan.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Agus membuka kegiatan Literasi Finansial ASN bertema “Cerdas Mengelola Keuangan, Sehat Menjalani Kehidupan, Produktif Memberikan Pelayanan Tahun 2026” di Kantor OJK Cirebon, Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No. 133, Kota Cirebon, Senin (20/7/26).
Agus mengungkapkan, data mencatat adanya kenaikan signifikan jumlah pengguna dan akun baru pada penyedia pinjaman daring resmi (legal) dalam periode April hingga Mei.
“Satu bulan itu utang baru melalui pinjol legal naik hingga Rp1,3 triliun se-Indonesia. Angka orang ngutang baru ini gede banget, sementara pertumbuhan di perbankan formal justru tidak sebesar itu,” tegas Agus.
Secara industri, pertumbuhan pembiayaan tersebut memang mengindikasikan kinerja bisnis yang tumbuh.
Namun, OJK menyoroti pemicu utamanya, yakni pola hidup konsumtif yang dipaksakan di tengah keterbatasan anggaran rumah tangga.
Lonjakan kebutuhan ini disinyalir terdorong oleh sejumlah momentum seperti liburan sekolah, momen bulan suci, hingga persiapan penerimaan peserta didik baru (PPDB).
“Ketika jumlah orang berutang naik pesat, risikonya ada pada bulan-bulan berikutnya karena ada beban cicilan yang harus dibayar. Dampaknya, daya beli masyarakat bisa tertahan dan pertumbuhan ekonomi di Triwulan III berpotensi ikut terkoreksi. Ini yang sangat kami waspadai,” jelasnya.
Guna menekan potensi jeratan utang konsumtif, Agus mengingatkan pentingnya membedakan antara kebutuhan (need) dan keinginan (want) dalam dinamika rumah tangga.
“Kalau memang tidak kepepet banget, jangan mudah mengambil pinjaman. Sesuaikan dengan anggaran. Misal, sepatu anak atau pasangan sebenarnya belum rusak, tapi hanya ingin ganti karena ada model baru yang keluar, nah, hal-hal seperti ini yang harus bisa kita ukur dan tahan,” ujarnya.
Selain persoalan beban ekonomi harian, OJK Cirebon juga menyoroti keterkaitan erat antara stabilitas keuangan dengan ketahanan keluarga.
Mengutip fenomena sosial yang terjadi di wilayah pegunungan dan sekitarnya seperti Majalengka, tingkat perceraian tercatat cukup tinggi, di mana 20 hingga 30 persen kasus disinyalir berkaitan dengan persoalan finansial.
“Kondisi ekonomi merupakan salah satu fondasi paling vital dalam rumah tangga. Di era digital saat ini, kemudahan akses keuangan harus disikapi dengan bijak agar tidak justru mengganggu keharmonisan keluarga maupun produktivitas kerja para ASN,” pungkas Agus.
Melalui program literasi finansial ini, Agus berharap jajaran ASN dapat menjadi agen literasi keuangan yang cerdas, cermat, serta mampu mengelola keuangan pribadi secara sehat demi menunjang produktivitas pelayanan publik. (Cepy)
