Ubah Sampah Jadi Berkah, Cara K3S Kesambi Cirebon Jaga Ekosistem Lewat Ekoenzim
Oplus_0
CIREBONWARTANEWSCOM, Cirebon – Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Kesambi Kota Cirebon kembali menggelar kegiatan Peningkatan Kompetensi Berkelanjutan Kepala Sekolah (PKBKS).

Bertema “Peduli Lingkungan dengan Praktik Pembuatan Ekoenzim” acara ini dilaksanakan di SDN Karya Mulya 2 Kota Cirebon, Rabu (29/4/26).
Dewi Pujiati, Ketua K3S Kecamatan Kesambi menyampaikan bahwa, kegiatan PKBKS ketiga di semester kedua ini diikuti oleh seluruh Kepala Sekolah tingkat dasar se-Kecamatan Kesambi.
Ia menyebutkan, program ini merupakan hasil kolaborasi antara K3S Kecamatan Kesambi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon, komunitas YESS (Youth Entrepreneur Studio), SMPN 11 Kota Cirebon, dan SMPN Al Azhar.
Dewi Pujiati, S.Pd., didampingi pengurus K3S, Patonah, S.Pd.,dan Nurul Ariyanti, M.Pd.,, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kepemimpinan kepala sekolah yang berpihak pada penyelamatan lingkungan melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak besar.
“Kami mencoba berkolaborasi melalui praktik bersama pembuatan ekoenzim dari sisa sampah makanan, terutama buah-buahan. Harapannya, hasilnya nanti bisa kita kembalikan lagi untuk kebaikan alam, seperti menyebarkan ke sungai untuk memperbaiki ekosistem atau digunakan sebagai pupuk tanaman,” kata Dewi di sela kegiatan.
Dewi menambahkan, jika gerakan ini dilakukan secara serentak di seluruh sekolah dan dipimpin langsung oleh kepala sekolah, maka dampak penguatan karakter peduli lingkungan pada siswa akan jauh lebih terasa.
“Tujuan utamanya adalah menciptakan mindset yang sama di antara para manajer pendidikan (Kepala Sekolah) untuk bergerak bersama dan menerapkannya di sekolah masing-masing,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan Tim Pembina DLH Kota Cirebon, Budi Santoso, memberikan apresiasi atas sinergitas yang terjalin. Ia menekankan bahwa isu lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Apalagi, saat ini telah terbit Surat Edaran Wali Kota Cirebon mengenai kewajiban kerja bakti dan pengelolaan sampah di skala kawasan atau fasilitas umum, termasuk sekolah.
“Kepala sekolah sebagai leader harus memiliki kebijakan dan kontribusi nyata terhadap perilaku ramah lingkungan. Hari ini kita bersimulasi mengolah sampah organik menjadi ekoenzim yang memiliki banyak manfaat, mulai dari pembersih toilet, cuci piring, hingga kebutuhan sanitasi lainnya,” ungkap Budi.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan alasan pemilihan ekoenzim dalam pelatihan kali ini. Menurutnya, sekolah kini menjadi salah satu titik pantau sampah organik, terlebih dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berpotensi menyumbang sisa makanan.
“Kota Cirebon saat ini dalam kondisi darurat sampah. Dengan mengolah sampah organik di sekolah melalui ekoenzim, biopori, atau pengomposan, kita dapat mengurangi beban TPA Kopi Luhur,” tuturnya.
Sebagai tindak lanjut, direncanakan pada bulan Juni atau Juli mendatang, hasil ekoenzim yang dibuat hari ini akan dituangkan secara simbolis ke Sungai Cikalong sebagai upaya nyata pembersihan ekosistem sungai di Kota Cirebon.
Hadir pula dalam kegiatan tersebut, Korwil Pendidikan Kecamatan Kesambi, Eka, serta para pengawas dinas yang turut memberikan dukungan atas inisiatif pelestarian lingkungan berbasis sekolah tersebut. (Cepy)
