Cirebon Jadi Lautan Manusia, Mahkota Binokasih Diarak dalam Puncak Milangkala Tatar Sunda 2026

0
oplus_0

oplus_0

Spread the love

CIREBONWARTANEWSCOM, Cirebon – Kota Cirebon benar-benar berubah menjadi lautan manusia pada Minggu (10/5/2026) malam. Ribuan warga dari berbagai penjuru Jawa Barat tumpah ruah memadati jalanan protokol demi menyaksikan puncak perhelatan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026, sebuah momentum sakral sekaligus pesta rakyat yang luar biasa meriah.

​Kemeriahan acara diawali dengan suasana penuh kekeluargaan melalui prosesi “Lesehan Khidmat” di kawasan bersejarah Gedung BAT. Di bawah temaram lampu kota, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM), Wakil Gubernur Erwan Setiawan, dan Pj Wali Kota Cirebon Effendi Edo tampak duduk bersila diatas karpet merah.

​Prosesi ini bukan sekadar duduk bersama, melainkan simbol penghormatan mendalam terhadap sejarah dan kerendahan hati pemimpin di hadapan rakyat serta leluhur.

​Usai prosesi sakral, suasana berubah menjadi riuh saat iring-iringan kirab dimulai. Gubernur KDM memimpin langsung barisan dengan menunggangi kuda putih, tampil gagah mengawal perjalanan Mahkota Binokasih simbol kebesaran takhta Sunda menuju Alun-alun Sangkala Buana, Keraton Kasepuhan.

​Atmosfer di sepanjang rute terasa magis. Aroma tipis kemenyan berpadu dengan dekorasi umbul-umbul putih dan janur kuning yang menghiasi sepanjang Jalan Pasuketan hingga Lemahwungkuk.

​”Warna putih yang mendominasi ini adalah simbol kesucian hati masyarakat Sunda, sedangkan janur kuning merupakan bentuk syukur atas warisan leluhur yang tetap terjaga,” ungkap salah satu panitia.

​Kemeriahan semakin memuncak dengan kehadiran delegasi seni dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Masyarakat disuguhi atraksi budaya kolosal yang jarang dijumpai dalam satu panggung.

​Antusiasme yang meledak membuat arus lalu lintas di pusat Kota Cirebon praktis lumpuh. Pihak kepolisian terpaksa menutup akses menuju Jalan Kanoman dan Jalan Lemahwungkuk karena padatnya massa yang memilih berjalan kaki demi mengabadikan momen langka ini.

​”Ini adalah upaya kita bersama untuk merawat ingatan kolektif akan kebesaran Tatar Sunda. Kita ingin generasi muda bangga dengan identitasnya,” kata salah satu panitia di sela-sela acara. (Cepy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *